Pemeriksaan borax secara kualitatif
Mata Kuliah
:PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN (PMM-A)
Dosen. :
Khiki Purnawati Kasim SST., M. KES
"PEMERIKSAAN
BORAX SECARA KUALITATIF"
Nama: Nur Indah
Nim: PO714221181075
KEMENTERIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.1V
1. Dasar
teori
Boraks adalah bahan
kimia berbahaya yang seharusnya tidak dicampurkan dalam makanan.
Sayangnya, masih saja banyak oknum pedagang yang secara sembunyi-sembunyi
mencampurkan bahan kimia ini sebagai pengawet makanan agar
tidak mudah busuk. Boraks juga umum dipakai untuk membuat
tekstur makanan lebih kenyal dan renyah.
Boraks termasuk kelompok mineral borat
yang merupakan senyawa kimia alami yang tersusun dari atom boron (B) yang
merupakan logam berat dan oksigen (O). Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya
untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7.10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut
dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3) yang tidak
merupakan kategori bahan tambahan pangan.
Pada umumnya dalam pengelolaan makanan,
produsen akan selalu berusaha untuk menghasilkan produk makanan yang disukai dan
berkualitas baik. Untuk mendapatkan makanan yang diinginkan maka sering pada
proses pembuatannya dilakukan penambahan Bahan Tambahan Pangan (BTP), yang
disebut juga sebagai zat aktif kimia (food additive).
Dalam kehidupan sehari-hari, BTP sudah digunakan secara umum oleh masyarakat
termasuk dalam pembuatan makanan jajanan. Namun dalam prakteknya, masih banyak
produsen makanan yang menggunakan bahan tambahan yang berlebih sehingga dapat
menjadi racun dan berbahaya bagi kesehatan. Bahan tambahan makanan yang
digunakan untuk menjaga kualitas makanan tersebut salah satunya adalah zat
pengawet. Pengawetan dengan zat kimia merupakan teknik yang relatif sederhana
dan murah, namun banyak pelanggaran yang terjadi akibat penggunaan zat pengawet
terlarang atau zat pengawet dalam jumlah berlebih.
2. Tujuan
a.
Agar mahasiswa dapat mengetahui cara pemeriksaan
borax secara kualitatif
b.
untuk mengetahui kandungan borax pada makanan
(bakso)
3. Alat & Bahan
Ø Alat :
·
-Stik Bambu
·
-Piring kecil (Tempat
kunyit dan stik bambu)
Ø Bahan :
·
Sampel Bakso
·
Rimpang Kunyit/Kunyit
Basah
4. Prosedur Kerja
1.
Stik Bambu di tusukkan
ke rimpang kunyit / Kunyit basah
2. Setelah itu, Stik bambu di tarik keluar dari
rimpang kunyit lalu ditusukkann ke bakso
3. Tunggu beberapa menit, kemudian amati
perubahan warna misalnya orange kemerah-merahan berarti bakso tersebut
mengandung boraks
Apabila Terjadi Perubahan warna, misalnya
warna stik bambu tersebut berubah jadi warna orange kemerah-merahan, berarti
sampel bakso tersebut mengandung boraks.
5.
Hasil
Dari hasil pelaksanaan praktikum pemeriksaan
borax secara kualitatif didapatkan hasil negative (-) atau bebas dari borax
karena warna dari ujung tusuk bambu yang telah ditanjapkan pada kunyit kemudian
ditancapkan lagi pada bakso tidak berubah warna menjadi orange kemerahan.


6.
Analisa hasil
Berdasarkan hasil praktikum yang telah
dilaksanakan, didapatkan hasil negative
(-) karna warna pada stik bambu yang diberi kunyit tidak berubah menjadi
orange kemerahan, yang artinya bakso tersebut bebas dari kandungan borax.
7.
Kesimpulan
Dilihat dari hasil praktikum yang telah
dilaksanakan disimpulkan bahwa bakso yang diperiksa bebas dari kandungan borax
karena saat dilakukan uji menggunakan stik bambu yang ditancapkan ke rimpang
kunyit lalu ditancapkan lagi kebakso warna dari ujung stik bambu yang diberi
kunyit tersebut tidak berubah menjadi oranye kemerahan yang artinya hasilnya
negative (-).
5. Saran
Ada baiknya sebelum memakan makanan yang
dibeli diluar aagar diuji terlebih dahulu, karena sekarang banyak oknum oknum
tidak bertanggung jawab yang sering mencampurkan bahan berbahaya ke makanan
seperti menambahkan borax, apa lagi cara pemeriksaannya cukup mudah.
Daftar pustaka
Adinugroho, N. 2013. Pengaruh Pemberian Boraks Dosis
Bertingkat Terhadap Perubahan Gambaran Makroskopis dan Mikroskopis Hepar Selama
28 Hari. Semarang : Undip.
Depkes 41/MA/93. 1993. Identifikasi
Boraks dalam Makaan dalam Metode Analisis Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan.
Jakarta : Direktorat Jendral Pengawasan obat dan Makanan Departemen Kesehatan
RI.
Fadila. 2006. Identifikasi Kadungan
Bahan Tambahan Makanan (BTM) Pada Makanan Jajanan Anak SDN Kompleks Kota Palopo
Tahun 2006. Skripsi. Makassar : Universitas Hasanuddin.
Hermana, 1991. Iradiasi Pangan.
Penerbit ITB. Bandung
Juhana , Hakim Alhaady. 2013. Pengaruh
Pemberian Boraks Dengan Dosis Bertingkat Terhadap Perubahan Makroskopis dan
Mikroskopis Ginjal Tikus Wistar Selama 4 Minggu Dilanjutkan 2 Minggu Tanpa
Paparan Boraks. Semarang : Universitas Diponegoro.



bagus dan semoga bermanfaat bagi pembaca👍
BalasHapusLaporan sangat jelas dan mudah di pahami
BalasHapusSangat bermanpaat,dan mudah dipahami
BalasHapusLaporannya bagus,dilengkapi dengan lampiran dan referensi
BalasHapusSangat bermanfaat👍
BalasHapusSangat bermanfaat dan mudah di pahami
BalasHapusSangat bermanfaat dikalangan masyarakat terutama yang minim pengetahuan dan sering jajan sembarangan. Terimakasih .
BalasHapusLaporannya sangat bermanfaat 👍
BalasHapusLaporannya mudah dipahami
BalasHapusSangat bermanfaat, cocok buat jadi bahan referensi,
BalasHapusMungkin penulisannya sedikit lebih dirapikan lagi
laporannya sangat bermanfaat
BalasHapusSemoga bermanfaat bagi masyarakat 👌
BalasHapusBagus dan semoga bermanfaat bagi pembaca 👍
BalasHapusBermanfaat sekali👍
BalasHapusGambar sebaiknya dilengkapi keterangan.
BalasHapusAnalisa hasil lebih ringkas dari kesimpulan🤔
Saran sdh baik tinggal tambahkan media kunyit dan tusuk gigi agar operasional.